Senin, 21 Maret 2011

ISTRI SHALEHA

Assalamu'alaikum,,,,


Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.

Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur’an di usia yang relatif sangat muda , Subhanallah…

Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti… Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.

Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.

Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..

Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.

Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.

Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh… Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.



oOo

suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya. “Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas.” Mereka memang saling memanggil dengan “Ummy” dan ” Abi” . sebagai panggilan mesra. “kenapa Mi ?” Yaqin agak panik “Semua terlihat kabur.” Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya… Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya…

Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang.

Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.



oOo

“Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya..” pintanya sambil memegang perutnya…

Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.

Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.


“Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang.”

“Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an agar selalu ingat Allah.



Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.

“Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan”

“Itu tandanya Ummi akan segera sembuh.” Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.

Yaqin mencoba menghibur istrinya. “Mi… Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran.”

“Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok” jawabnya singkat. Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.



“Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi.”



“Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi.”

”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??” Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.



oOo

Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.


“Ada apa dengan istriku??.” tanyanya setengah membentak. “Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali.” jawab perawat yang mengurusnya.


Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.

Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya.



“Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?” “Pasti Mi… Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi.” Hatinya seakan berkecamuk. “Doanya yang banyak ya Bi” “Pasti Ummi” “Jaga dan rawat anak kita dengan baik.”



Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi…



Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.



“Pak, ini jenazah baik.” kata perawat itu. Dengan penasaran dia balik bertanya. “Dari mana ibu tahu???” “Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini.” “Subhanalloh…”



Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu hadits



“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejap pun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” (HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah). oOo



“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana” Air matapun tak terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.




Mudah-muahan dapat menjadi pelajaran untuk kita semua, terutama kita yg sudah berumah tangga yg mana pentingnya arti dari saling pengertian....:)

Wassalam,,,,

Jumat, 11 Maret 2011

Pentingnya Memahami Perkembangan Naluri Pada Anak

Home schooling hadir sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubrik ini kita akan menghadirkan narasumber yang punya kompeten untuk membahas tentang pendidikan anak.

Bersama Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga.

Ustadzah, saat ini tidak sedikit orang tua yang kewalahan terhadap perilaku anaknya sendiri. Bahkan terkadang mereka sulit mengendalikan anak-anaknya ketika anak naka atau ngambek. Wajar nggak sih yang seperti ini?

Seharusnya orang tua adalah pengendali yang paling kuat bagi anaknya. Kalau kemudian ada kesulitan pengendalian dari orang tua, maka apalagi orang lain. Ketika orang tua tidak mampu lagi mengendalikan anaknya, sebenarnya ini koreksi juga bagi orang tua. Pasti ada masa dia tidak berinteraksi dengan anak. Pasti ada masa dia tidak mengenali tumbuh kembang anaknya. Mungkin ini karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan lain, sehingga tidak terlalu memperhatikan anak. Bisa saja ini tidak hanya terjadi pada ibu-ibu yang bekerja. Tetapi mungkin juga ibu-ibu yang banyak aktivitas sosial luar rumah, bahkan juga –bukan tidak mungkin—menimpa ibu-ibu yang sibu berdakwah keluar rumah. Ternyata anaknya sendiri tidak tertangani. Yang jelas, segala masalah yang menimpa anak, maka orang tua harus mengkoreksi dirinya terlebih dahulu.

Apa yang harus dilakukan orang tua agar bisa menangani anak-anaknya? Misalnya ada anak yang suka memukul, ada anak yang kalau keinginannya tidak terpenuhi langsung ngamuk, ada anak yang gampang menangis dan penakut, dll?

Orang tua harus memahami anak-anaknya. Anak-anak itu adalah manusia seperti kita. Hanya mereka masih kecil. Ada proses pembentukan potensi yang sedang tumbuh. Ada proses pembentukan dan pengembangan akalnya. Sebagaimana manusia normal, sebenarnya hidup itu selalu berawal dari upaya untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan manusia ada yang bersifat kebutuhan jasmani (fisik untuk bertahan hidup) yang ini seringkali tidak bermasalah dalam pemenuhannya. Kemudian kebutuhan naluri. Nah kebutuhan naluri ini yang biasanya memang sangat beragam pemenuhannya. Karena naluri itu distimulir dari luar. Ukurannya atau kadarnya tergantung kuat dan lemahnya rangsangan yang berasal dari luar diri manusia. Ada tiga penampakan naluri: (1) Tadayyun: kecenderungan untuk mengkultuskan atau mensucikan sesuatu—inilah yang menjadi dasar ketaatan atau ketundukan kepada Allah SWT (2) Baqa’: kecenderungan untuk mempertahankan diri/eksistensi diri. Penampakannya seperti rasa takut, marah, senang, sedih, suka memimpin, suka memiliki dll—Inilah dasar untuk menumbuhkan rasa percaya diri, rasa tanggungjawab dan kepemimpinan (3) Nau’: Kecenderungan untuk melestarikan keturunan, seperti rasa sayang kepada keluarga, cinta kepada lawan jenis—inilah potensi untuk menumbuhkan rasa kasih sayang. Seringkali ketidakfahaman terhadap naluri ini dan secara khusus perkembangannya pada anak yang menyebabkan salah penanganan. Bahkan terkadang orang tua memperlakukan anaknya tanpa memperhatikan usia. Padahal pada anak-anak, perbedaan bulan saja sudah terjadi perkembangan yang berbeda pada anak. Menangani anak usia 4 tahun sangat berbeda dengan menangani anak usia 6 tahun. Dengan demikian pada pendidikan anak usia dini, materi pelajaran yang diberikan harus sangat memperhatikan faktor ini.

Bagaimana memahami anak berdasarkan perkembangan usia?

Ini pertanyaan yang bagus bagi para orang tua, karena ini yang seringkali terjadi salah penanganan. Ada orangtua yang memperlakukan anak batita seperti anak besar. Ada yang memukul dan keras terhadap anaknya. Tetapi tidak jarang anak-anak yang sudah selayaknya didisiplinkan malah diperlakukan seperti balita. TIdak pernah dimarahi, akhirnya yang kerepotan justru orang tuanya sendiri. Kalau kita memahami perkembangan anak maka ada tahapan: Usia dini (0-6 tahun); Pra baligh (7-14 tahun); Baligh (di atas 15 tahun).Tahapan perkembangan naluri anak untuk usia sejak lahir hingga menjelang tamyiz (7 tahun) Ini masih dalam tahap memiliki hak sempurna untuk diperlakukan secara baik oleh yang lain (pelayanan dan perlindungan penuh).

Bagaimana mengarahkan anak-anak pada usia – menjelang tamyiz ini? Apakah sama kadarnya anak batita dengan balita atau dengan usia TK?

Kita memahami ini sebagai sebuah masa yang masih dalam tahap pelayanan. Tetapi kita juga harus mempersiapkan untuk mereka menghadapi tahapan yang lebih mandiri. Di sinilah harus ada upaya untuk mengarahkan naluri, agar ketika beralih masa, mereka sudah bisa mandiri. Penanganan ini secara rinci memperhatikan masing-masing naluri. Misalnya Naluri tadayyun: ditumbuhkan mulai dari pengakuan eksistensi Allah SWT sebagai Pencipta manusia & alam semesta, pengakuan dan kekaguman kepada sifat Maha Kuasanya Allah Swt, sampai munculnya rasa syukur terhadap setiap nikmat yang Allah Swt berikan kepada anak. Pada tahapan ini sudah dibiasakan mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah, seperti alhamdulillah, subhanallloh, dll. Selanjutnya merangsang munculnya rasa ketaatan kepada Allah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Naluri Baqa-: ditumbuhkan mulai dari (1) Memunculkan rasa aman dari segala gangguan agar tidak berkembang rasa takut terhadap sesuatu yang baru dikenalnya (2) Memunculkan rasa eksistensi dirinya mulai dari memanggil namanya dengan nama yg baik, memberikan julukan dengan profil tertentu (anak sholeh, anak pintar,dll), merangsang keinginannya untuk bermain bersama dengan saudaranya dan temannya, merangsang munculnya rasa tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain, merangsang tanggung jawab menolak kezholiman dan membela kebenaran. Memunculkan rasa memiliki terhadap benda-benda yang menjadi kebutuhannya, rasa pemeliharaan terhadap benda-benda yang menjadi miliknya, membedakan mana yang menjadi milik sendiri dan mana yang menjadi milik orang lain. Bila ingin menggunakan milik orang lain harus ijin terlebih dahulu. Selanjutnya ditumbuhkan keridhoannya untuk selalu berbagi, mulai dari berbagi miliknya dengan saudaranya terlebih dahulu, selanjutnya dengan temannya. Naluri Na’u (1) Ditumbuhkan munculnya rasa sayang dan hormat kepada orang tua, saudara, kerabat dekat dengan cara orang tua memberikan contoh bentuk perlakuan sayang (ketulusan & keikhlasan dalam pelayanan) kepada anak sehingga anak dapat mencontohnya dan melakukan kepada orang lain. (2)Identifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan. (3)Identifikasi posisi anggota keluarga. (4) Pada tahap ini anak diajarkan ada kehidupan khusus orang tua (contoh harus mengetuk pintu/ ijin ketika mau masuk ke kamar orang tua) dan bagaimana menjalin hubungan dengan keluarga dan kerabat dekat (contoh silaturahmi)

sumber: mediaislamnet.com

semoga bermanfaat.

Sebuah Refleksi Tentang Kesombongan Anak Manusia

Aslamu'alaikum...


DALAM kitab suci Al-Qur’an disitu dikisahkan bahwasannya perbuatan dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk terhadap Khaliknya adalah sifat sombong atau arogan, hal itu dapat kita lihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 34, dimana pada saat itu Allah menyuruh semua makhluk ciptaan-Nya untuk “bersujud” kepada Adam; seorang anak manusia yang baru pertama diciptakan, semua makhluk bersujud kecuali Iblis. Ketidakpatuhan ini didasarkan atas keangkuhan dirinya yang menganggap bahwa dia lebih mulia dari makhluk sejenis manusia, dan masih menurutnya bahwa api lebih mulia kedudukannya dibandingkan dengan tanah, maka atas dasar ‘dalil’ tersebut pantang bagi Iblis untuk bersujud kepada Adam. Oleh karena itulah Allah mengusir Iblis dari taman surga dan memvonisnya sebagai penghuni neraka untuk selama-lamanya.


Penggalan kisah diatas merupakan sejarah yang memiliki makna mendalam, seperti halnya sejarah yang silih berganti terjadi, dan bahwa realita memberi bukti bahwasannya sejarah akan kembali terulang namun tentunya dengan pelaku, tempat serta waktu yang berbeda; Dejavu. Dalam perjalanan hidup manusia nyata-nyata sifat sombong menjadi pemicu kerusakan di muka bumi ini, sebuah hadist mengatakan : “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu”. Hadist tersebut seakan hendak memperingatkan kepada kita bahwa kesombongan akan merugikan diri, mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa pada jaman nabi dahulu, Qorun misalnya, seorang manusia yang sangat kaya dengan bergudang-gudang kekayaan, tumpukan hartanya merupakan simbol dari kesuksesannya, sehingga dengan begitu angkuh dia mengatakan bahwa segala apa yang telah didapatkannya adalah karena usaha dia semata-mata, dia menyangsikan Allah yang maha kaya, karena kesombongannya itulah Tuhan membenamkan dia bersama seluruh hartanya ke dasar bumi untuk selama-lamanya.


Pun halnya dengan Raja Fir’aun atau Pharao Rhamses II, yang dengan sungguh sangat sombong menobatkan diri sebagai raja diraja Tuhan manusia, seorang pendewa tahta dan kekuasaan yang lupa pada hakekat diri yang sesungguhnya, karena keangkuhannyalah dia tenggelam kedasar samudera yang kelam, seorang “Tuhan” tenggelam, sungguh menghinakan bukan !.


Bumi pun berputar dan waktu terus berlalu, dunia pun kini telah memasuki babak baru; era modernisasi. Namun sifat sombong seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri, kesombongan individual maupun kesombongan konstitusional telah menciptakan berbagai kehancuran dimuka bumi ini. Perang Dunia II misalnya, berapa taksiran kerugian materil dan immateriil yang diakibatkan, jutaan bahkan ratusan juta nyawa manusia mati sia-sia, berbagai infra struktur hancur luluh lantak. Padahal itu semua diakibatkan oleh ulah segelintir orang sombong yang memiliki kepentingan pribadi atau golongan, sebutlah segelintir orang-orang itu Bennito Mussolini, Josef Stalin, Lenin, Mao Tse Tung, Pol Pot, atau Adolf Hitler. Lantas apa yang kemudian mereka dapatkan setelah itu, hanyalah segudang penghinaan dari generasi selanjutnya sebagai penjahat perang yang tak berprikemanusiaan dan haus darah; mereka mati tanpa kehormatan yang dulu menjadi simbol eksistensinya.


Lalu, siapakah penerus mereka di era milenium dewasa ini, dengan kata lain siapa orang tersombong selanjutnya diatas alam fana ini. Agaknya kita sepakat untuk mengalamatkan julukan ini kepada seorang cowboy Texas bernama George Walker Bush. Siapakah Bush ?, dia hanyalah seorang mantan alkoholik dan pemakai madat yang gagal menjadi juragan minyak. Namun karena hegemoni ayahnya dia naik tahta menjadi orang nomor satu di Amerika bahkan mungkin di dunia.


“Like Father Like Son” atau “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya” agaknya pepatah-pepatah itu sangat pas dialamatkan kepada kedua Bush ini. Masih tersimpan dalam ingatan kita 11 tahun silam, saat Bush senior dengan langkah arogan mengusir pasukan Saddam Hussein untuk keluar dari Kuwait. Saat itu dunia “setuju” karena Saddam dinilai telah menginvasi negeri jirannya itu. Karena ulah kesombongan pemimpinnya itu rakyat Irak harus hidup menderita selama bertahun-tahun dibawah embargo ekonomi PBB.


Sejarah pun terulang, Bush junior mulai lantang menunjukkan arogansi individual serta arogansi konstitusionalnya secara terang-terangan kepada dunia, ini semua dimulai dengan peristiwa 11 September 2001, ketika simbol prestisius Paman Sam luluh rantak, Amerika marah besar, malu dan merasa terhinakan, tak ada kata lain selain balas dendam, maka ditentukanlah target sasarannya, yakni TERORISME !, apa terorisme dan siapakah para teroris itu ?, sampai detik ini tak ada acuan baku yang mengartikan makna terorisme baik secara terminologis maupun etimlogis yang universal, maka jadilah arti terorisme itu hanya untuk Amerika sendiri. Maka dengan berlencana-kan polisi dunia dan berbendera-kan perdamaian dunia, Amerika melalui tangan Bush menabuh genderang perang keseluruh penjuru raya, dan mulailah agenda balas dendam yang sarat kesombongan itu direka.


Korban pertama adalah negeri miskin kering kerontang Afghanistan, Amerika mentasbih pemerintahan berkuasa di Afganistan yakni Taliban melindungi pelaku 11 September yakni Usamah Bin Ladin, sebuah hipotesa yang terlalu tergesa-gesa dan minim fakta. Namun Amerika tetap yakin bahwa Usamah pelaku teror itu, sehingga perangpun digelar di tanah para mujahidin itu.


Lihatlah bagaimana sombongnya seorang anak manusia bernama Bush yang mengatakan “Ikut Amerika atau ikut teroris”, tak pelak lagi kritik pedas pun mengalir padanya. Seorang pengamat strategi Uni Emirat Arab, Mayjen Yassin Smeid misalnya, dia mengatakan Bush tak ubahnya dengan Hitler dengan pernyataan tersebut, karena hanya ada dua pimpinan negara yang mengatakan hal itu di dunia, yakni George Walker Bush dan Adolf Hitler.


Tak sampai hitungan bulan, Taliban pun jatuh, Amerika “menang”, meskipun buruannya hingga saat ini seolah ditelan bumi menjadi misteri. Namun rupanya Bush seorang vampir haus darah, belum kering darah yang mengalir di tanah Afghanistan, kini dia mengincar target selanjutnya yang tak lain adalah musuh bapaknya dulu, yakni negeri 1001 malam Irak, dimana Saddam Hussein masih berkuasa di sana. Bush geram, Amerika pun kembali membuat skenario, mulai dari masalah kepemilikan senjata pemusnah massal, ketelibatan Saddam dengan jaringan Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, sampai alasan yang sungguh sangat klise yakni membebaskan rakyat Irak dari derita rejim kejam Saddam. Ketiga alasan itu seolah menjadi sebuah legitimasi untuk menginvasi kedaulatan negara Irak. Teriakkan anak manusia sejagat tidak di dengar, ocehan PBB tak di gubrisnya, Bush bersama pasukannya tetap anteng jalan tegap menuju Irak. Hampir seluruh umat manusia marah, setiap penjuru dunia mengecam ulah arogan Amerika itu, namun rudal-rudal Amerika cukuplah sebagai bukti bahwa sifat sombong yang ada pada diri Bush sudah sangat kronis dan akut.


Akhirnya kita kembali menyaksikan di depan televisi sambil menikmati secangkir kopi akan kesombongan Amerika, sungguh kita hanya bisa geram dan memendam dendam, selebihnya diam. Dan sampai kapan kita akan menyaksikan itu semua, agaknya patut disimak pernyataan seorang pejabat tinggi militer Israel, Yakoov Amidror yang mengatakan :

“Jika ingin melihat Timur Tengah yang sesungguhnya, maka Irak harus dijadikan sebagai langkah pertama bukan langkah yang terakhir,”


Akankah itu sebuah pertanda akan kesombongan demi kesombongan yang akan terus ditampakkan Amerika !. Yah benar, karena. sebentar lagi kita akan menyaksikan kembali rudal-rudal dan misil-misil Amerika menari-nari di Iran, Suriah dan entah negara manalagi yang ada dalam agenda Pentagon.


Lantas kapankah Allah akan memenuhi janji-Nya : “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dalam keadaan sombong ,sebab sifat sombong hanya akan mendatangkan kehancuran dan azab semata”.


Bush, Amerika, dan kroni-kroninya adalah simbol kesombongan abad milenium, akankah janji Allah itu akan menimpanya seperti ditimpakan pada Qorun, dan Fir’aun !

jawabannya … PASTI !,

kapan, … ENTAH !,


Dan kita hanya bisa kembali duduk manis di depan televisi sambil menikmati secangkir kopi menyaksikan Paman Sam menari di panggung dunia dalam siaran eksklusif yang live dari CNN atau Al-Jazeera.///

“CIPTAKAN KEHIDUPAN BUKAN SEKEDAR HIDUP”

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them. ~Albert Camus

[Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain]

Untuk dapat sekedar hidup, mungkin kita tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita. Namun sebagai mahluk yang paling spesial diantara mahluk ciptaan Allah SWT, kita berkewajiban untuk mendapatkan kehidupan yang berarti. Kita harus berupaya semaksimal mungkin. Sebuah pepatah bijak menyebutkan, “Find a meaningful need and fill it better than anyone else. Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun.”

Ada beberapa langkah untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih berarti.

*Langkah pertama adalah memperbesar kemauan untuk belajar.

Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka gunakan pikiran tersebut untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup.

Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.

*Langkah kedua supaya kehidupan kita lebih berati adalah mencoba melakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan.

Bekerjalah lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia.

Satu hal yang patut dijadikan pedoman bahwasanya kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5 P, yaitu power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan), prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan).

Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan.

Di dunia ini tidak sedikit orang yang semula sangat sukses, tetapi merana di tahun-tahun terakhir kehidupan mereka.

Kehidupan mereka seakan-akan tidak berarti meskipun sebelumnya sangat kaya raya. Upaya terbaik memang dapat menghasilkan kesuksesan besar, tetapi bukan berarti merupakan jaminan sebuah akhir kehidupan sebagai manusia yang penuh arti.

Karena itu langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah mengimbangi kerja keras dengan berbuat kebaikan.

Seorang penulis pada abad 20-an yang berkebangsaan Perancis, Andre Gide, mendefinisikan kebaikan itu sebagai berikut; “True kindness presupposes the faculty of imagining as one’s own the suffering and joys of others. Kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain.”

Kerja keras yang diimbangi dengan berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Hal itu terdorong oleh keinginan untuk dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan sikap dan ekonomi. James Allen, penulis buku berjudul As a Man Thinketh mengatakan, “Pemikiran serta perbuatan baik tidak mungkin mendatangkan hasil yang buruk; pemikiran dan perbuatan buruk tidak mungkin mendatangkan hasil baik.”

Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti.

Langkah-langkah sebagaimana dijelaskan diatas terbukti juga sangat efektif menjadikan kesan positif tentang diri kita tidak mudah dilupakan orang. Saya meyakini bahwa kita masih mempunyai banyak kesempatan dan potensi untuk mendapatkan kehidupan berharga itu dimanapun dan apapun pekerjaan kita. 

Wassalam..

Kamis, 24 Februari 2011

SATUKAN UMAT DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG

Islam berkembang dibawah kepemimpinan Rasullullah SAW karena cinta dan kasih sayang yang ditebarkan, ukhwah atau persaudaraan/persatuan umat Islam pada masa itu amat kuat, bahkan Rasul dapat mempersatukan kaum Aus dan Khazraj di Madinah (kaum Ansor) yang selalu berperang selama bertahun tahun, dapat hidup berdampingan dengan cinta dan kasih sayang Islam yang ditebarkan oleh Rasul dan seluruh sahabat di Zaman itu. Islam pun dengan cinta dan kasih sayangnya dapat merubah watak manusia yang keras dan kasar seperti Umar bin Khattab menjadi manusia yang amat zuhud dan begitu mencintai kaum miskin, anak yatim dan kaum lemah lainnya. Sifat cinta dan kasih sayang sesama ini, merupakan modal utama dalam penyebaran dan perkembangan umat Islam karena memang sifat cinta dan kasih sayang merupakan Sifat yang berasal dari Allah SWT yang amat bertentangan dengan sifat benci, iri, dengki, sombong yang berasal dari syaitan.
Namun pada perkembangan umat Islam saat ini sepertinya kita harus mengurut dada, karena hampir hilang sifat cinta dan kasih sayang pada umat Islam. Bahkan jangankan cinta dan kasih sayang kepada makhluk Allah yang lain, cinta kepada sesama manusia bahkan sesama umat Islam pun sudah hampir pudar. Perpecahan dan peperangan antar sesama umat Islam terjadi di mana-mana. Setiap lembaga dan organisasi yang berdasarkan Islam pun selalu mengklaim diri yang paling benar dan cenderung mengharamkan kelompok lain yang tidak segaris dengan kelompoknya.Dalam perkembangan saat ini untuk menebar senyum kepada sesama manusia saja merupakan hal yang amat berat dan sulit dilakukan, bahkan kecurigaan saja yang selalu ditebar kepada manusia lain dengan sifat suuzon (buruk sangka) menjadi penghias utama, sementara sifat husnuzon (berbaik sangka) hanya sedikit orang saja yang mampu melakukannya itupun dengan penuh berbagai pertimbangan dahulu.
Kalau dikaji dari kondisi tersebut diatas ada baiknya kita menganalisa penyebab masalah yang terjadi menyebabkan perpecahan umat antara lain :
1. Sebuah Keharusan Sejarah

Perpecahan umat Islam yang terjadi saat ini dapat kita katakan adalah sebuah keharusan sejarah, dalam arti kata lain Sunnatullah, atau takdir yang harus dijalani oleh umat Islam, keharusan sejarah ini sudah digambarkan oleh Rasullullah Muhammad SAW. Bahwa umat Islam ini akan terbagi dalam 73 golongan, semuanya akan masuk ke neraka, kecuali hanya satu golongan saja yang benar alias akan masuk surga. Akan tetapi yang menjadi permasalahannya Rasul tidak menyebut golongan yang manakah satu golongan yang benar itu, Beliau hanya mengatakan yang benar adalah yang mengikuti Sunahku.Celakanya semua kelompok itu mengaku sebagai kelompok yang paling benar dan semua kelompok itu juga memakai dalil diatas sebagai rujukan dan semuanyapun mengaku sebagai Ahlussunah Waljamaah dengan Argumentasi dan doktrin yang memukau perasaan para pengikutnya.
Doktrin dan Ego kelompok ini yang menjadikan Islam yang begitu universal dan merupakan sebagai Rahmatan lil Alamin menjadi sempit, dan mengecil, serta tidak lagi menjadi Rahmatan Lil Alamin, akan tetapi menjadi Rahmatan Lil Kelompoknya masing-masing. Bahkan dalam sejarah, perpecahan umat ini sudah dimulai dari masa Khalifah Ali bin Abu Thalib, yang dikhianati oleh Muawiyah, sehingga umat Islam pada masa itu menjadi kelompok Syi’ah, Suni, dan khawaridj kemudian terus berkembang sampai saat ini.Bagaimana kita saat ini bisa mengaku yang paling benar, sedangkan di Zaman Khalifah Ali saja, dimana para Sahabat Rasullullah yang tangguh, tidak diragukan keimanannya, serta masih banyak yang hidup saja merasa kebingungan, apalagi kita dizaman ini, yang sangat jauh kualitas keimanannya dari para sahabat di zaman itu, jadi jangan merasa yang paling benar dan berani mengharamkan orang lain apalagi sesama Islam karena yang berhak menilai benar atau salahnya adalah Allah SWT, sedang terhadap orang kafir sekalipun kita tidak boleh memaki sembahan-sembahan mereka seperti tersebut dalam Al-Quran, surat AL-AN’AAM ayat 108 yang berbunyi : “Dan janganlah kamu memaki sembahan sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.

2. Belum Bisa Memaknai Perbedaan Sebagai Sebuah Rahmat

Banyak diantara kita mungkin sesama umat Islam yang tidak bisa menerima perbedaan sebagai sebuah rahmat, padahal Rasullullah SAW, pernah berkata bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Bahkan kita semua mengetahui bahwa kitab kita adalah Al-Quran yang satu yang berasal dari Wahyu Allah SWT kepada Rasullullah SAW, tetapi dalam perkembangan penafsirannya bisa mengalami perbedaan, ini terbukti dengan adanya mazhab-mazhab dalam Islam yaitu Mazhab Hambali, Maliki, Syafi’I, dan Hanafi.akan tetapi kita dapat melihat bahwa semua mazhab itu mempunyai dasar pemikiran, latar belakang budaya dan sosial masing-masing, dan pasti diyakini bahwa niat mereka adalah dengan sebaik mungkin dalam rangka memberikan sebuah sumbangsih pemikiran terhadap kejayaan Islam itu sendiri. Bisa kita bayangkan andai semua manusia mempunyai pemikiran yang sama, pasti tidak akan terjadi kemajuan dan perkembangan, bahkan manusia itu, bisa menjadi robot-robot berjalan. Atau sekiranya Allah menjadikan bumi ini laut semua, tidak ada daratan, gunung, pepohonan, bulan, bintang, matahari dan seluruh isi alam yang ada ini, maka akan sengsaralah kita untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena itu semua memang dijadikan Allah SWT berbeda dan berpasangan ada siang ada malam, ada laki-laki dan perempuan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi manusia yang berfikir. Atau bisa kita bayangkan guratan warna lukisan yang indah atau sebuah alunan musik merdu yang menggetarkan jiwa, andai tidak ada perbedaan warna dari sebuah lukisan yang indah, dalam artian Cuma satu warna misalnya merah semua, maka akan panaslah mata kita melihat lukisan tersebut karena tidak ada perpaduan warna lain, sehingga lukisan itu menjadi mentah, akan tetapi lukisan itu menjadi indah karena ada perpaduan warna lain yang menghiasi dan menyeimbangkan, misal warna hijau, kuning, biru, putih dan lain sebagainya. Begitu juga sebuah alunan musik merdu yang dapat menggetarkan jiwa pun, berasal dari nada-nada dasar yang (do,re,mi,fa,sol,la,si,do) yang dipadukan menjadi satu sehingga kita bisa mendengar sebuah alunan nada yang indah. Begitupun umat yang berasal dari Kitab yang sama dan Rasul yang sama dia akan menjadi umat yang terbaik dengan perbedaan tersebut (asal jangan berbeda dalam hal akidah) apabila dapat memaknai perbedaan itu dengan baik, atas dasar cinta dan kasih sayang maka akan jayalah umat ini dimasa yang akan datang.

3. Hilangnya Prinsip Rahmatan Lil-Alamin,serta Prinsip Cinta dan Kasih Sayang

“Dan tidaklah Aku turunkan engkau (Rasullullah Muhammad SAW) di muka bumi ini, melainkan sebagai Rahmatan Lil-Alamin”, ayat tersebut adalah merupakan prinsip dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasullullah Muhammad SAW, dimana memang Islam dengan Al-Quran sebagai kitab (pedoman hidup) diturunkan sebagai penyelamat dan pembawa cahaya yang menerangi bagi seluruh alam. Sehingga jangankan manusia, bahkan makhluk Allah SWT yang lain pun yaitu; tumbuhan, hewan, bahkan Jin sekalipun dapat merasakan indahnya Islam sebagai cara menjalani hidup yang benar (penataan hidup) yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Prinsip cinta dan kasih sayang yang dicontohkan Rasullullah Muhammad SAW bersama Sahabat-sahabat beliau dalam menyebarkan Islam adalah cara yang amat menggugah hati dan menggetarkan jiwa para kaum kafir qurais dimasa itu, sehingga tanpa paksaan dan dengan kesadaran yang amat tulus, mereka yang membenci berbalik arah menjadi cinta bahkan mau mengurbankan harta dan nyawanya untuk kejayaan Islam. Prinsip Rahmatan Lil-Alamin dan Cinta Kasih pada sesama ini yang mungkin sudah banyak dilupakan oleh para pendakwah Islam dewasa ini, yang selalu mengedepankan bendera organisasi, kelompok, bahkan partai yang berbasiskan Islam, hingga sekali lagi bisa dikatakan Islam menjadi sempit dan terkotak-kotak dalam kelompok dan organisasinya masing-masing. Bahkan antar sesama umat Islam yang berbeda kelompok, saling menjatuhkan dan menjelekkan, hingga Rahmatan Lil-Alamin mengecil maknanya menjadi Rahmatan Lil-Kelompoknya masing-masing.Cinta dan Kasih Sayang pun tidak lagi menjadi ciri Islam tetapi hanya pada kelompok masing-masing saja rasa itu ditebarkan, sementara terhadap kelompok lain tidak ada cinta dan kasih sayang. Maka wajar saja apabila Islam kurang menyentuh hati umat manusia saat ini, sebelum prinsip Rahmatan Lil-Alamin dan kasih sayang menjadi pegangan dan ciri umat dalam penyebarannya.

Mungkin tiga permasalahan diatas merupakan sebagian kecil dari permasalahan-permasalahan umat yang ada saat ini, akan tetapi bisa menjadi titik awal untuk memulai kembali kejayaan Islam dalam naungan daulah khilafah dimasa yang akan datang, dengan tetap berpegang pada Al-Quran dan Hadist, karena hanya dengan berpegang dengan Dua hal tersebut (Al-Quran dan Hadist) kita semua akan selamat menjalani hidup, serta dengan cinta dan kasih sayang mudah-mudahan hati kita bisa menjadi lembut. Bahkan harus kita ketahui bersama, bahwa sifat Rahman dan Rahim Allah SWT jugalah yang menjadikan bumi ini masih bisa kita diami, karena kalau tidak dengan Rahman dan Rahim Allah niscaya telah dihancurkanlah bumi ini, melihat kelakuan makhluknya yang ada di bumi (Manusia) yang sudah sangat sombong dan selalu menentang Robbnya.Smoga sll kita dalam Naungan Cinta Kasihnya..amin

Ketika Sakit Merupakan Nikmat dan Anugerah

Apabila kita memahami hal ini, yaitu rasa sakit atau musibah lainnya dapat menghapus dosa kita dan mengangkat derajat kita; maka hendaklah kita bersabar dan ridho terhadap hal tersebut agar kita mendapatkan apa yang dijanjikan Allah terhadap orang yang bersabar:
”Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)
”Sesungguhnya hanya kepada orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
”Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): ‘Keselamatan atas kesabaranmu.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (ar-Raad: 23-24)

Apakah ini bukan suatu kemuliaan? Bukankah ini merupakan derajat yang tinggi?
Tidakkah kita menginginkan sakit yang kita alami menjadi suatu kenikmatan dan anugerah yang besar?
Jangan biarkan semua janji-janji tersebut…hilang begitu saja….
Jangan biarkan…kesempatan sudah ada di depan mata, namun kita tak sanggup meraihnya….
Klo hal ini terjadi pada kita… Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….
tak ada kata lain yang pantas..selain: Saya mendapat musibah besar karena tidak mampu memanfaatkan kesempatan emas dengan adanya musibah yang ada pada saya…

Jika kamu tidak mengetahui maka itu adalah musibah, jika kamu mengetahuinya maka musibahnya lebih besar lagi….
Jika kamu tidak tahu bahwa di balik sakit ada kenikmatan yang besar, ada janji-janji Allah yang menggiurkan…itu adalah suatu musibah;
Jika kamu mengetahui hal ini (keutamaan-keutamaan sakit jika bersabar) namun luput dari memperoleh janji-janji Allah ini …, maka ini adalah musibah yang sangat besar.

”Sungguh unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka (hal itu) merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim)

Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam.

Aku memang Bukan MUTIARA, tapi biarkanlah karena Aku mutiara itu ADA!

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh..

Bagi yang memiliki kekurangan, yang memiliki masalah, yang berada dalam kesempitan, yang merasa tidak punya apa apa, yang merasa tidak mampu berbuat apa apa, yang merasa bodoh, yang merasa paling kerdil, yang merasa sendiri, yang merasa tidak memiliki asa tersisa…

Sudah saatnya kita hancurkan dinding penghambat pengembangan diri ini! Dengan Izin Allah, dengan kemauan dan Aksi nyata kita! Tanpa ragu bahwa Allahlah yang akan mengubah kita…

“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” QS. Ar Ra'du:11)

Karena itu, kalau merasa tidak mampu, (Dan tentu saja tidak akan mampu tanpa kehendak Allah Azza Wa Jalla!) Maka berdo’alah…

"…Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” (QS Al-Mu'min: 60)

Dan bila tidak kunjung terkabul do’amu, lakukanlah introspeksi pada dirimu dengan penuh kecemasan, jangan jangan.. jangan jangan… dengan teliti dan bersabarlah…


“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153)

Maka percayalah… niscaya Allah akan selalu menjadi penolongmu…
Dan jika kamu masih memiliki masalah dan sesuatu yang mengganjal di hati,

“Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri” (QS.Az Zumar:38)

Dan jika masih ada rasa sesal karena tidak mendapatkan yang diinginkan, maka ingatlah

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.Fathir:2)

Dan jika anda menginginkan pasangan yang “penuh cinta lagi sebaya umurnya” (QS Al-Waqi'ah:37) maka jadikan rasa takut, ketakwaan sebagai jiwa…

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (QS. Ar Rahmaan:46)

karena ketauliah saudaraku…
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya” (QS. Al-Qalam:34)


“…dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam” HR:Muslim

Karena “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”(QS. Ash-Shaff:3)

Astaghfirullah… apakah tulisan = perkataan? Kalau iya, konsekuensiku gede banget :-( konsekuensi yang harus aku lakukan. !

Ya Allah… mungkin aku hanyalah sebutir pasir di jagad-Mu yang luas, tapi ijinkan aku membentuk sebuah mutiara cinta-Mu di hati setiap orang yang membaca tulisan ini. Karena Aku sadar ya Allah… aku hanyalah sebutir pasir, jauh lebih rendah dari hambamu yang lagi baca tulisanku ini. Tetapi Allah… “Karena pasir ini, jadikanlah Mutiara itu ADA! Dan lebih bersinar dari sebelumnya…”